Prosesi Siraman Sakral Warnai Pengukuhan Jagabayan Bekasi Raya, Air 7 Sumur Keraton Kanoman Dibawa Langsung ke Cibitung


Kabupaten Bekasi,
 
Persatuanindonews.com ||  Suasana sakral dan penuh khidmat menyelimuti Gedung Serba Guna RT 05 RW 028 Perum Pondok Tanah Mas, Kelurahan Wanasari, Kecamatan Cibitung, Minggu (08/02/2026). YM Gusti Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiron dari Kesultanan Kanoman Cirebon memimpin langsung prosesi siraman bagi Ketua Jagabayan Bekasi Raya, Kang Amir Sudarso, beserta jajaran pengurusnya.

Prosesi tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian pengukuhan Jagabayan Bekasi Raya, yang sarat dengan nilai adat, spiritualitas, dan filosofi luhur warisan Kesultanan Kanoman Cirebon.

Yang istimewa, air yang digunakan dalam prosesi siraman bukanlah air biasa. Raden Ayip Bagus Natakusuma selaku Pembina Jagabayan Bekasi Raya menjelaskan bahwa air tersebut diambil langsung dari tujuh sumur sakral yang berada di lingkungan Keraton Kanoman Cirebon, kemudian dibawa ke Bekasi untuk pelaksanaan prosesi.

“Air siraman ini berasal dari tujuh sumur yang ada di Keraton Kanoman. Masing-masing sumur memiliki sejarah, makna, dan filosofi tersendiri. Ini bukan sekadar air, tetapi simbol doa dan harapan,” jelas Raden Ayip.

Adapun tujuh sumur tersebut yakni Sumur Penganten, Sumur Witana, Sumur Bandung, Sumur Kejayan, Sumur Langgar Alit, Sumur Kedaton, dan Sumur Keputren.

Sumur Penganten merupakan sumur tertua yang dibuat oleh Pangeran Cakrabuana atau Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi, pada abad ke-14. Sumur ini dikenal unik karena meski kedalamannya hanya sekitar 50 cm, tidak pernah mengering meski musim kemarau. Airnya dipercaya sebagai simbol ikhtiar dan doa, khususnya bagi yang berharap kemudahan jodoh, tentunya kembali pada keyakinan masing-masing.

Sumur Witana yang berada di depan Bangsal Witana memiliki kedalaman sekitar 1,5 meter dan dahulu digunakan untuk memenuhi kebutuhan di lingkungan kesultanan. Secara filosofi, sumur ini dimaknai sebagai sumber energi dan pembersih aura negatif.

Sumur Bandung dengan kedalaman 2 meter melambangkan keselamatan dan keberlangsungan hidup (karahayuan). Hingga kini masih digunakan dan menjadi simbol warisan sejarah dan spiritual Keraton Kanoman.

Sumur Kejayan dipercaya sebagai simbol keberkahan dan kesuksesan. Biasanya digunakan oleh mereka yang memiliki hajat atau harapan besar dalam hidupnya, kembali kepada kepercayaan pribadi masing-masing.

Sementara Sumur Langgar Alit dikenal memiliki keunikan tersendiri. Berdasarkan uji laboratorium, airnya tidak menyebabkan karat pada benda besi. Air ini kerap digunakan untuk memandikan benda pusaka dalam setiap prosesi adat.

Adapun Sumur Kedaton dan Sumur Keputren yang berada di dalam Gedung Jimat memiliki fenomena unik, di mana tinggi permukaan airnya mengikuti pasang surut air laut.

Raden Ayip menambahkan bahwa seluruh rangkaian prosesi ini sarat dengan siloka dan filosofi kehidupan.

“Semua ini adalah simbol penyucian diri, penguatan niat, dan pengabdian kepada budaya serta masyarakat. Namun pada akhirnya, semua kembali kepada kehendak Sang Pencipta Alam Semesta,” ungkapnya.

Sementara itu, YM Gusti Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiron menegaskan bahwa prosesi siraman bukan hanya tradisi, tetapi momentum penguatan tanggung jawab moral.

“Siraman ini adalah simbol pembersihan lahir dan batin. Jagabayan harus menjadi teladan, menjaga marwah kesultanan, serta membawa manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Dengan prosesi tersebut, Kang Amir Sudarso dan jajaran pengurus Jagabayan Bekasi Raya resmi mengemban amanah untuk menjaga nilai-nilai budaya, mempererat persaudaraan, dan bersinergi dengan seluruh elemen masyarakat di wilayah Bekasi Raya.

Acara ditutup dengan doa bersama, menandai komitmen pelestarian tradisi Kesultanan Kanoman yang tetap hidup dan berkembang di tanah perantauan.

Bowo

0 Komentar